
MSBSACEH.COM – Aceh Besar- Aku merasa bingung, H-1 sebelum terbang ke Malaysia. Membaca g-mail dari Madrasah Tahfiz Taufiqillah (MTT) untuk pimpinan kami, Abi Gun. Yang di bagian paling bawahnya, terdapat satu moto berbunyi “Meninggalkan kalam Allah”. Tapi, aku tak punya waktu untuk memikirkan hal itu, jadi aku kembali menyibukkan diri dengan hal-hal yang harus kami siapkan.

Hai! Aku Nasyitha, salah satu santriwati Pesantren Teknologi MSBS, Aceh. Dan aku baru saja mencium aroma udara Kuala Lumpur International Airport bersama Sembilan santriwan santriwati lain, ditemani Abi Gun dan Abi Iswanda, yang merupakan Pimpinan Pesantren Teknologi MSBS dan wakilnya.
Setelah dua hari menjejakkan kakiku untuk berjalan-jalan mengeliling kuala lumpur yang nama nya sudah aku kenal sejak kecil, kami akan bersiap untuk pergi ke MTT. Perjalanan 9 jam dari Kuala Lumpur ke Jitra, Kedah, menurutku cukup berkesan, mataku tak bisa berhenti menatap jendela bus. Di shubuh yang tak terlalu dingin, kami menyeret koper ke masjid terdekat. Setelah shalat shubuh, salah seorang ustaz dari MTT sudah menunggu untuk membawa kami, dan aku saat itu sudah sangat penasaran, bagaimana ya pesantren itu?
Dari awal kami memasuki gerbang, aku sudah mendengar suara qasidah, dan ternyata, pihak MTT telah menyiapkan shalawat Badar untuk menyambut kedatangan kami. Aku dengan semangat, memerhatikan kesungguhan para santriwan yang melantunkan qasidah salawat badar dengan irama salah satu lagu dangdut terkenal di Indonesia, namun liriknya diganti dengan lirik islami, aku terkesan dengan ide mereka. Cukup banyak hal yang menarik perhatian ku dari awal kami memasuki gerbang MTT ini.
Adalah Abi Auzaid, pimpinan MTT menyambut kami dengan sangat baik, setelah qasidah selesai, para hafiz-hafizah (panggilan di MTT) langsung melanjutkan kelas fardhu’ain. Sedangkan kami dikumpulkan untuk diberi informasi kegiatan selanjutnya yang ada di MTT.
“hang ni generasi strawberry, jadi abi nak buat hang keras sikit biar boleh tahan kuat, jangan lembek sangat.”
Itu salah satu perkataan abi Auzaid yang paling kuingat. Selain candaan beliau yang bercita-cita punya istri dua tapi tak kesampaian. Candaan khas bapak-bapak menurutku.
Aku sangat ingin membersihkan diri, sedikit beberes lalu beristirahat sejenak. Lalu, tetiba kak yana, salah satu rekanku berseru:
“Nasy, kita juga harus masuk kelas.”
“SERIUS?” Aku terkejut bukan main. Ini beneran kami harus masuk kelas? Baru datang loh. Itu yang ada di pikiranku. Salah satu hafizah yamg masih disitu menarik perhatianku. Aku memanggilnya, bertanya sekali lagi, berharap tadi kak Yana salah dengar.
“Ya, depa gerak laju sikit a. jangan telat masuk kelas. Oh ya, guna furdah sekali.” Wow, jawaban di luar ekspektasi. Aku terdiam.
Walau terkejut, tapi kami mau tidak mau tetap masuk kelas. Dengan cadar yang terpasang, aku menulis materi yang sudah ada di papan tulis. Aku benar benar terpukau dengan kedisisplinan madrasah ini.
Berlanjutlah kegiatan kami yang dipenuhi Al-qur’an. Setiap hari. Al-qur’an. Tambah saba’, 5 saba’, manzil, saba’ baru. Seperti itu terus menerus. Jujur, setiap manusia pasti punya sisi jenuh, dan sisi itu datang padaku saat sedang menunggu azan maghrib.
Aku duduk sendiri di kursi depan kelas. Memandangi matahari tenggelam di langit kedah. Dan pemikiran H-1 sebelum aku terbang ke Malaysia itu muncul. Meninggikan Kalam Allah. Aku memikirkannya lagi dan lagi. Maksudnya? Disini meninggikan Al-qur’an? Tapi kan… memang Al-qur’an harus selalu ditinggikan, jadi itu maksudnya apa?
Azan maghrib berkumandang. Aku menghela nafas, targetku belum tercapai. Tetiba aku sudah terisak pelan. Teringat masa-masa di MSBS yang terlalu malas hanya untuk membaca Al-Qur’an. Tapi aku tak boleh menyesal. Sekarang lah saatnya membukatikan.
“Nasy!” Teriak Kak Raisya.
“Udah Azan, ayo susun shaf!” Lanjutnya.
Aku mengangguk. Sekarang bukan saatnya untuk menyesal.
Tidak satu pojok pun. Walau sudah kubaca lebi dari 40 kali, entah mengpa pojok yang satu ini susah sekali buat bertengger di kepalaku. Mau nangis tapi malu, aku pun berjalan ke tempat duduk kak salma. Kak salma masih sibuk melanjutkan hafalan. Aku menunggu sebentar.
“Berapa pojok mau nyetor?” Tanya kak Salma sambil mengambil Qur’an ku.
Aku menghela nafas berat. Menggeleng. “Sepojok aja belum dapet.” Keluhku. Jujur aku iri dengan kak Salma. Kak Salma kalau menghafal lancar seperti air terjun.
Tiba tiba kak Salma mengulurkan Qur’annya. Aku bingung, mengerutkan alis, kak Salma menunjuk satu tulisan di Qur’annya.
Janganlah fokus pada permasalahan dalam menghafal, Fokuslah pada jumlah tilawah yang banyak!
Aku terdiam lagi. Kak Salma menutup Qur’annya. “Ngafal tu gausah cepat cepat. Pelan pelan aja. kalau dipaksa ga akan masuk ke kepala tau.” Ujarnya sambil mendorong kepalaku pelan.
“Dah lanjut ngafal sana!” kak Salma kembali menyelam dengan qur’an biru-nya. Aku menghela nafas lagi. Kak Mera memandangku, dan tersenyum tipis, kembali lagi dengan Quran hijaunya.
Aku melihat kak Hayyana, juga sedang sibuk dengan Quran maroonnya. Kupindahkan mata sekali lagi, kak Raisya memejamkan mata, fokus menghafal sambil memeluk Quran biru toskanya. Tinggal aku dan Quran ku yang bewarna ivory ini. Ku kuatkan niat. Aku harus lebih serius.
Aku bangun awal sekali hari ini, jadi, setelah selesai shalat tahajud, aku masih sempat duduk di kursi depan kelas, memerhatikan bulan yang sedang berbentuk sabit di malam menjelang pagi itu. Lagi, pikiranku terbawa ke Meninggikan Kalam Allah. Aku sudah malas menerka. Tapi tiba-tiba, ada suara Qur’an dari dalam kelas, ternyata itu suara kak yana yang sedang murajaah juz 28, aku terdiam. Sebegitu semangatnya kak yana membaca Qur’an. Tapi kenapa aku tak punya tekad sekuat itu ya?
Aku menghela nafas berat entah sudah keberapa kalinya. Dan aku tersadar satu hal. Kalau begini, aku tak ada bedanya dengan ‘Nasyitha’ yang dulu malas untuk sekedar murajaah. Jadi buat apa aku pergi jauh-jauh ke sini? Aku melihat para hafizah yang semangat menghafal, ada yang 27 juz, 24 juz, 22 juz. Dibandingkan mereka, aku tidak ada apa-apanya. Menetes air mata dari netraku. Inilah yang disebut Meninggikan Kalam Allah. Ketika aku sibuk melamun melihat bulan, kak yana justru sedang memperbagus juz 28-nya. Ketika kak Mera, Kak Raisya dan kak Salma sibuk memperkuat hafalan, aku masih termenung, memikirkan apa yang membuat hafalan mushaf ini susah untuk melekat di kepalaku. Padahal jelas jelas aku yang belum menginginkan Al-qur’an menjadi teman hidup seperti bagaimana seharusnya.
Baru aku mengerti, Meninggikan Kalam Allah yang dimaksud di g-mail penerimaan 10 santri MSBS untuk Program Tahfiz Intensif. Aku mengatur nafas, dan dengan Langkah cepat kembali ke kelas, aku mengambil Qur’an ivory-ku. Menghampiri kak Yana.
“Kak, kami nanti mau nyetor juz satu samai selesai. Kalau ga selesai marahin ya.” Ujarku. Kak Yana awalnya bingung, tapi kemudian mengangguk.
Baiklah, sekarang aku harus serius untuk Meninggikan kalam Allah, setinggi tingginya di hatiku. Teringat pesan kak Salma, pelan pelan aja, resapi. Aku mengusap wajahku pelan. Bismillah, aku harus punya perubahan dari sini.
Akan aku cari sampai dapat maksud dari Meninggikan Kalam Allah itu!




Maasya Allah, Allah punya cara untuk menegur kita, dan setiap perjalanan pasti akan ada manfaatnya, itulah namanya keberkahan, berkah selalu ilmu yang didapat….