
TITIP: Surat Cinta untuk Wali Santri Pesantren MSBS Aceh
Untuk Ayah dan Bunda, yang hari ini hatinya masih berat melepas buah hati menuju gerbang pesantren…
Kami tahu, tidak mudah. Melepas anak ke pondok bukan sekadar melepas mereka tidur di kamar yang jauh, makan di dapur yang berbeda, atau bangun pagi tanpa panggilan sayang dari rumah.
Ini tentang melepaskan sebagian hati Anda agar ia tumbuh kuat, agar ia belajar hidup, agar ia pulang kelak dengan jiwa yang matang dan iman yang dalam.
Namun kami mengerti, tidak semua orang tua siap. Banyak yang berpikir, menyekolahkan anak di pesantren sama saja dengan sekolah biasa, hanya beda lokasi. Tapi nyatanya, ini bukan sekadar soal jarak. Ini adalah perjuangan bersama: anak berjuang di medan tarbiyah, orang tua berjuang di medan keikhlasan.
Dan karena itulah kami ingin berbagi pesan sederhana, namun dalam maknanya. Kami menyebutnya dengan TITIP. Sebuah singkatan, sebuah prinsip, dan sebuah pegangan hati untuk para wali santri yang sedang belajar melepas, dengan yakin.
T – Tega Terkadang cinta orang tua dibungkus dengan kalimat, “Saya nggak tega.” Padahal, justru karena cinta itulah kita harus tega. Tega bukan berarti tak sayang. Justru karena cinta yang dalam, kita membiarkan anak menempa dirinya di jalan yang lebih berat.
Ingatlah kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang meninggalkan Ismail kecil di padang tandus bukan karena tak cinta, tapi karena perintah dan harapan besar dari Allah.
Maka yakinlah, pesantren bukan buangan, tapi medan pendidikan. Anak Anda tidak ditinggalkan, ia sedang disiapkan.
I – Ikhlas Anak kita akan dibimbing. Tapi prosesnya bukan seperti di rumah: ada disiplin, ada tantangan, ada keterbatasan. Tidak semua fasilitas semewah rumah. Mungkin mereka menangis, lelah, atau bahkan sakit.
Tapi justru itulah medan tempanya. Maka ikhlaskan. Karena pondok bukan hotel tidak ada pesanan kamar nyaman, tidak ada menu favorit harian. Ini bukan tempat anak dimanjakan, tapi tempat mereka ditempa menjadi manusia.
Dan jangan lupa, guru dan ustadz yang membimbing mereka… seringkali bukan digaji oleh kita, tapi digerakkan oleh cinta dan tanggung jawab.
T – Tawakkal Setelah tega dan ikhlas, kuncinya adalah tawakkal. Yakinlah, kita hanya bisa berusaha dan mendoakan. Hidayah itu milik Allah. Anak kita bukan disulap oleh pesantren mereka akan berubah perlahan, seiring waktu, dengan izin-Nya.
Jangan pernah lelah berdoa. Doa ayah bunda itu seperti hujan yang membasahi hati anak-anak, walau kita tak selalu lihat hasilnya segera.
I – Ikhtiar Pendidikan butuh biaya. Mari bersikap jujur: tidak semua pondok dibiayai lembaga amal, tidak semua guru mendapat gaji tetap. Maka mari tunaikan peran kita sebagai wali dengan ikhtiar terbaik.
Imam Syafi’i berkata: “Ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara…” Salah satunya: harta.
Uang yang kita keluarkan insya Allah tidak akan hilang. Ia kembali dalam bentuk akhlak, ilmu, dan masa depan anak kita.
P – Percaya Terakhir, percayalah.
Anak kita di pondok bukan sekadar belajar kitab atau bahasa. Ia sedang dibina. Dan pembinaan itu kadang tidak selalu tampak indah. Bisa jadi ia disuruh menyapu, membersihkan toilet, mengangkat sampah…
Lalu kita datang menjenguk, melihat anak sedang kerja kasar, dan hati kita ingin protes: “Anakku ke sini belajar, bukan jadi pembantu.”
Tapi percayalah… semua itu bagian dari pendidikan. Karena mereka tidak hanya diajari ilmu, tapi juga dilatih jiwa: sabar, taat, peduli, tangguh, dan rendah hati.
Akhir Kata Wahai Ayah, Bunda, bila anak Anda hari ini menangis karena rindu, peluklah ia dalam doa. Jangan jemput ia pulang karena hatimu goyah. Sebab setiap langkahnya di pesantren sedang menjemput masa depan yang lebih terang.
Titipkan mereka bukan hanya ke pondok tapi kepada Allah yang Maha Menjaga.
TITIP-lah anak Anda, dan yakinlah: mereka akan pulang bukan hanya dengan ijazah, tapi dengan jiwa yang lebih kuat dan akhlak yang lebih mulia.
Wahai Ayah, Bunda, bila anak Anda hari ini menangis karena rindu, peluklah ia dalam doa. Jangan jemput ia pulang karena hatimu goyah. Sebab setiap langkahnya di pesantren sedang menjemput masa depan yang lebih terang.
Titipkan mereka bukan hanya ke pondok tapi kepada Allah yang Maha Menjaga.
TITIP-lah anak Anda, dan yakinlah: mereka akan pulang bukan hanya dengan ijazah, tapi dengan jiwa yang lebih kuat dan akhlak yang lebih mulia. Bygih25