MSBS

Belajar Untuk Tidak Egois, di Kedah, Malaysia

sebuah Renungan Dari Catatan Perjalanan Muhammad Rayhan

Saya ingin membagikan pengalaman ketika mengikuti program tahfiz intensif di Kedah, Malaysia. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya karena memberikan banyak pelajaran, baik dalam menghafal Al-Qur’an maupun dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Saya senang mendapat kesempatan mengikuti program tersebut karena saya ingin lebih intens dalam menghafal Al-Qur’an. Saya ingin mengembangkan kemampuan itu sekaligus mendapatkan pengalaman baru yang bermanfaat.

Sebelum berangkat, saya merasa bersemangat sekaligus penasaran. Saya membayangkan bagaimana rasanya belajar Al-Qur’an di negara lain, bertemu teman-teman baru, dan merasakan suasana belajar yang berbeda. Namun, saya juga merasa gugup karena harus meninggalkan lingkungan yang sudah dikenal dan menyesuaikan diri dengan keadaan baru. Saya menyadari bahwa program ini bukan hanya tentang menambah hafalan, tetapi juga tentang belajar mandiri, disiplin, dan menghadapi tantangan.

Ketika tiba di Kedah, saya merasa senang karena akhirnya dapat mengikuti program tersebut. Akan tetapi, pada hari pertama, saya mengalami beberapa kesulitan. Saya harus beradaptasi dengan teman-teman yang belum saya kenal. Awalnya, saya merasa canggung untuk berbicara dan bergaul dengan mereka. Saya juga perlu membiasakan diri dengan bahasa yang digunakan sehari-hari. Walaupun ada kemiripan dengan bahasa Indonesia, terdapat perbedaan pengucapan dan kosakata yang membuat saya harus belajar memahaminya.

Lingkungan di sana pun terasa berbeda. Saya harus menyesuaikan diri dengan tempat tinggal, suasana belajar, aturan, dan kebiasaan sehari-hari. Pada awalnya, banyak perubahan yang harus saya hadapi sekaligus. Namun, saya berusaha untuk tetap berpikiran positif, membuka diri, mengenal teman-teman, dan mengikuti kegiatan yang telah dijadwalkan. Perlahan-lahan, saya mulai memahami rutinitas dan merasa lebih nyaman.

Salah satu tantangan terbesar adalah kegiatan menghafal Al-Qur’an yang dilakukan hampir setiap hari. Waktu banyak digunakan untuk menambah hafalan, mengulang ayat yang sudah dipelajari, memperbaiki bacaan, dan menyetorkan hafalan kepada pembimbing. Semua kegiatan itu membutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan kedisiplinan. Meskipun saya memiliki kelebihan dalam menghafal, menjaga hafalan agar tetap kuat tetap membutuhkan usaha. Saya harus mengulang ayat-ayat yang telah dihafal supaya tidak mudah lupa. Ketika merasa lelah, saya berusaha mengingat kembali tujuan awal mengikuti program dan tetap semangat.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa dengan kegiatan di sana. Saya belajar mengatur waktu, mengikuti jadwal, dan menjalankan tanggung jawab dengan lebih baik. Saya memahami bahwa keberhasilan dalam program tahfiz bukan hanya ditentukan oleh kemampuan menghafal, tetapi juga oleh kesungguhan, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. Menjadi penghafal Al-Qur’an bukan sekadar menghafal dengan cepat, melainkan juga menjaga hafalan dan berusaha mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Hal yang paling berkesan bagi saya adalah aturan bahwa jika satu orang melakukan kesalahan atau membuat masalah, semua peserta dapat ikut menerima hukuman. Pada awalnya, saya merasa aturan itu cukup berat karena kesalahan seseorang berdampak kepada seluruh kelompok. Saya sempat berpikir bahwa setiap orang seharusnya bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. Namun, setelah menjalani program tersebut, saya mulai memahami bahwa aturan itu mengajarkan tanggung jawab bersama, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Dari aturan tersebut, saya belajar bahwa dalam kehidupan berkelompok, kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Tindakan seseorang dapat memengaruhi orang lain, sehingga setiap peserta perlu menjaga sikap, mematuhi peraturan, dan saling mengingatkan. Jika ada teman yang melakukan kesalahan, kita sebaiknya menegurnya dengan sopan, bukan langsung menyalahkan atau menjauhinya. Saya menjadi lebih berhati-hati dalam bertindak dan mulai memahami pentingnya mempertimbangkan akibat dari perbuatan sendiri. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa kebersamaan bukan hanya melakukan kegiatan bersama, tetapi juga saling mendukung dan bertanggung jawab.

Program ini juga memberi saya kesempatan untuk menjalin pertemanan baru dengan orang-orang yang memiliki kebiasaan dan karakter berbeda. Dari mereka, saya belajar menghargai perbedaan, memahami orang lain, dan bekerja sama. Karena berada jauh dari lingkungan yang biasa saya tempati, saya juga belajar menjadi lebih mandiri, mengurus kebutuhan sendiri, menjaga barang-barang pribadi, serta mengikuti jadwal tanpa selalu bergantung kepada orang lain.

Jika dibandingkan dengan hari pertama, saya merasa telah mengalami perubahan. Awalnya saya canggung dan kesulitan menyesuaikan diri, tetapi lama-kelamaan saya lebih nyaman dengan lingkungan baru dan lebih terbiasa menjalani rutinitas. Saya belajar bahwa kesulitan dapat menjadi kesempatan untuk berkembang. Kita memang tidak selalu langsung merasa nyaman dengan keadaan baru, tetapi kita perlu berusaha, bersabar, dan berani mencoba.

Bagi saya, mengikuti program tahfiz intensif di Kedah, Malaysia, bukan hanya perjalanan untuk meningkatkan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga kesempatan untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab. Saya bersyukur telah mendapat pengalaman tersebut. Walaupun pada awalnya saya kesulitan beradaptasi dengan teman baru, bahasa baru, lingkungan baru, dan kegiatan yang padat, semua itu menjadi pelajaran yang sangat berharga. Saya berharap pengalaman ini memotivasi saya untuk terus menjaga hafalan, memperbaiki diri, dan menjadi pribadi yang lebih baik serta lebih dekat dengan Al-Qur’an.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button